Umar Bin Abdul Aziz Menulis Surat Terhadap Salim Bin Abdillah

Muammar bin Sulaiman Ar-Raqqi bercerita, dari Qirab bin Sulaiman, bahwa Umar bin Abdil Aziz menulis terhadap Salim bin Abdillah, selaku berikut, “Salam untukmu. Saya memuji Allah yang tidak ada ilahi kecuali Dia. Amma ba’du; Allah ‘Azza wa Jalla sudah mengujiku dengan menyediakan jabatan pemerintahan atas umat Islam, tanpa saya diminta musyawarahh juga tanpa saya minta. Kecuali itu merupakan takdir Allah yang sudah ditetapkan untukku. Maka saya meminta terhadap Allah yang sudah mengujiku dengan jabatan ini, mudah-mudahan menolongku dalam mengemban tanggung jawab ini terhadap hamba hambaNya juga negeri-negeriNya. Juga mudah-mudahan saya diberikan rezeki berupa amal dalam mengelola mereka dengan ketaatan kepada-Nya. Serta mudah-mudahan mereka diberikan rezeki dari Allah berupa kelembutan dan kasih sayangku. Dan mudah-mudahan saya diberikan rezeki ketaatan dan ketundukan mereka serta keterlibatan mereka dalam menyukseskan kiprah ini. 

Maka jikalau surat ini sudah hingga kepadamu, kirimkanlah kepadaku catatan-catatan wacana pemerintahan Umar, serta sirah dan cara ia menentukan kasus bagi luar biasa kiblat maupun luar biasa dzimmah. Karena saya ingin bertindak menyerupai dirinya, dan mengikuti jejaknya. Jika Allah menolongku untuk menjalankan hal itu. Insya Allah. Wassalam.” Dia berkata; Salim bin Abdillah kemudian membalas surat tersebut, “Dari Salim bin Abdillah terhadap Umar bin Abdil Aziz. Salam untukmu. Saya memuji Allah yang tidak ada ilahi selain Dia. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla sudah menentukan takdir bagi semua orang. Mahasuci Allah dari kemusyrikan yang mereka perbuat. Dialah yang sudah bikin dunia sebagaimana Dia kehendaki. Dan Dia mengakibatkan masa dunia ini sungguh pendek, permulaan dan karenanya hanyalah menyerupai satu waktu dari siang hari. Kemudian Dia menentukan kehancuran baginya dan bagi penduduknya. Allah berfirman, “Tiap-tiap sesuatu tentu binasa, kecuali Allah. BagiNyalah segala penentuan, dan cuma kepada-Nyalah engkau dikembalikan.” (Al-Qashash: 88)

Penduduk dunia tidak dapat berbuat sesuatu di saat engkau meninggalkan mereka, juga di saat mereka meninggalkan dunia. Tentang hal itu, Allah sudah menurunkan Kitab Suci-Nya, juga sudah menyuruh Nabi-Nya, serta menyediakan perjanjian maupun ancaman, menyodorkan perkataan, menyediakan teladan dan perumpamaan, serta sudah menentukan agama-Nya. Dia sudah menentukan apa yang halal, dan menentukan apa yang haram. Dia juga sudah menceritakan kisah kisah yang terbaik. Kemudian engkau, hai Umar bin Abdil Aziz, tidak lebih dari seorang anak keturunan Adam. Bagimu cukup masakan dan minuman yang memadai seorang anak cucu Adam. Saat ini engkau sudah diberikan jabatan yang sungguh tinggi, yang cuma diberikan oleh Allah.

Jika engkau bisa mengikuti langkah orang sebelummu, dan tidak bikin rugi dirimu dan keluargamu pada hari kiamat, maka lakukanlah pekerjaanmu itu. Tidak ada kekuatan kecuali dengan izin Allah. Karena sebelummu ada beberapa orang yang sudah menjalankan apa yang mereka kerjakan, mematikan apa yang sebaiknya dimatikan, dan menggugah apa yang sebaiknya dihidupkan. Sehingga, dalam hal itu lahirlah orang-orang yang kuat, yang meningkat dan meraih kematangan kecerdasan, ia merupakan sunnah.

Jika setiap pintu kemakmuran ditutup dari rakyat, tentu Allah akan bukakan bagi mereka pintu bencana. Jika engkau bisa membukakan bagi mereka pintu kesejahteraan, maka lakukanlah. Karena jikalau engkau membuka satu pintu kemakmuran bagi mereka, tentu Allah akan tutupkan satu pintu tragedi bagi mereka. Dan hendaknya engkau tidak tidak yakin memberhentikan seorang pejabat yang mengatakan; ‘Saya tidak mendapati tenaga yang cukup untuk menjalankan hal itu.’ Karena jikalau engkau melakukan pekerjaan untuk Allah dan memberhentikan pejabat alasannya Allah, tentu Allah akan memberikanmu para pembantu yang cakap. Karena pinjaman itu bentuknya tiba sesuai kelurusan niat. Siapa yang niatnya lurus, tentu pinjaman Allah akan tiba kepadanya. Sementara siapa yang niatnya tidak lurus, tentu pinjaman itu tidak tepat datangnya, segaris dengan niatnya. 

Apabila engkau bisa untuk tiba pada hari selesai zaman tanpa dibarengi oleh permintaan kezhalimanmu terhadap seseorang, maka lakukanlah. Dan tiba sebelummu, orang-orang yang menyenangimu alasannya minimal pengikut mereka, maka lakukanlah. Tidak ada kekuatan kecuali dengan pinjaman Allah. Mereka sudah menghadapi kematian, mereka sudah menyaksikan kengerian sehabis kematian, mata mereka sudah buta yang lazimnya tidak pernah berhenti menyediakan kelezatan baginya. Demikian juga perut mereka sudah pecah yang lazimnya tidak pernah kenyang. Sedangkan leher mereka sudah patah tanpa disangga bantal, sehabis sebelumnya senantiasa ditopang oleh bantal yang lembut, kasur yang tenteram dan selimut yang hangat, beserta para pembantu yang siap melayaninya. 

Tubuh mereka di sekarang ini sudah membusuk di dalam tanah, di dalam kubur mereka. Jika mereka berada bersahabat orang-orang miskin, tentu orang orang miskin itu akan merasa sungguh terusik dengan amis badan mereka. Setelah mereka mengeluarkan banyak ongkos untuk berbelanja minyak wangi bagi badan mereka. Itu merupakan langkah-langkah berlebihan. Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan kembali. Alangkah besar ujian yang engkau terima, hai Umar! Dan putuskanlah kekeliruan yang terjadi sebelummu dalam pemerintahan umat ini. Jika ada pejabat yang engkau utus, maka berikanlah perayaan yang sungguh keras, wacana pemungutan harta dari rakyat serta duduk kasus penumpahan darah, kecuali dengan haknya. 

Berhati-hatilah dalam duduk kasus harta, hai Umar. Demikian juga duduk kasus darah. Ketahuilah, jikalau engkau berani melanggar dalam duduk kasus harta dan darah, tentu engkau akan menjadi sosok yang kecil dan hina. Sedangkan jikalau engkau mengelak dari hal itu, tentu engkau akan mendapat ketenangan dalam pendengaranmu dan hatimu. Engkau berkirim surat kepadaku meminta mudah-mudahan saya mengantarkan kepadamu dokumen surat menyurat Umar bin Al-Khathab, serta biografinya dan keutamaan-keutamaannya. Seungguhnya Umar melakukan pekerjaan bukan pada zamanmu dan bukan dengan orang-orangmu. Sementara engkau diangkat selaku pemimpin umat di zaman di mana orang gres mengenali apa yang dilakukannya sehabis ia melaksanakan sesuatu. Dan saya berharap, engkau bisa menanggung beban amanah ini sebagaimana yang sudah dilaksanakan oleh Umar bin Al-Khathab, menyerupai yang engkau lihat.

Dan merupakan satu kezhaliman jikalau engkau hingga mendapat kedudukan yang lebih mulia di segi Allah dibandingkan Umar bin Khathab. Ucapkanlah, sebagaimana yang dibilang seorang hamba yang saleh, menyerupai disitir dalam Al-Qur`an ini, “Dan saya tidak berkehendak menyalahi engkau (dengan mengerjakan) apa yang saya larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama saya masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya terhadap Allah saya bertawakal dan cuma kepada-Nyalah saya kembali.” (Hud: 88) (Lihat; Hilyatu Al-Awliya` (2/397).

-------------------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Cetakan Pustaka al-Kautsar, hal. 119-122

Belum ada Komentar untuk "Umar Bin Abdul Aziz Menulis Surat Terhadap Salim Bin Abdillah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel