Kisah Menangis Alasannya Yakni Taqwa Sampai Buta

Dari Ibrahim bin Abdillah bin Al-Ala, ia berkata; Saya pernah diceritakan oleh orangtuaku, bahwa ia mendengar Abu Amir sang penceramah berkata; Saat kami sedang duduk di Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, datanglah seorang anak kecil yang hitam dengan menenteng sepotong materi bacaan. Maka saya pun membaca potongan bacaan tersebut. Di sana tertulis, “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah memberikanku kenikmatan berupa kekuatan berpikir, kesenangan mengambil pelajaran dari peristiwa, dan membuatku bahagia melakukan khalwah (menyendiri). Hai Abu Amir, saya yakni seseorang dari sahabatmu, saya mendengar isu kedatanganmu ke Madinah. Saya sungguh bahagia mendengarnya dan ingin sekali berziarah ke tempatmu. Karena saya merasa rindu mengikuti majlis pengajianmu dan menyimak ucapan-ucapanmu, yang jikalau ia berada di atas kepalaku tentu seakan menaungiku dan jikalau berada di bawahku seakan ia mengangkatku. Maka saya memintamu, demi Allah yang sudah memberikanku kekuatan kata kata, agar menampilkan saya kehormatan diziarahi olehmu. Wassalam.”

Abu Amir berkata; Saya pun bangkit bareng delegasi tadi hingga hingga ke daerah luas, dan ia memasukkanku ke satu rumah yang luas tetapi tak terawat. Dia berkata kepadaku, “Tunggulah di sini, saya meminta izin apalagi dulu untuk mu.” Saya pun berdiri di situ. Setelah itu ia keluar kembali dari rumah dan berkata, “Masuklah.” Saya pun masuk. Dan saya saksiksan rumah yang sungguh lusuh. Pintunya yang dibikin dari batang kurma. Dan di dalamnya saya dapati seorang renta yang sedang duduk menghadap kiblat dalam kondisi gundah dan menanggung derita, dan terlihat sedih alasannya yakni ketakutan. 

Wajahnya terlihat gurat-guratan kesedihan. Matanya pun sudah buta alasannya yakni sering menangis. Dan pelupuk matanya sedang sakit. Saya pun mengucapkan salam kepadanya dan ia membalas salamku. Setelah itu ia membenahi duduknya. Dan terlihatlah ia seorang yang buta, kakinya pincang dan sedang sakit. Dia berkata kepadaku, “Hai Abu Amir, mudah-mudahan Allah mencuci hatimu dari kotoran respon dosa! Hatiku ini senantiasa merasa rindu kepadamu, dan ingin sekali menyimak ceramahmu. Sedangkan saya mempunyai luka dalam hatiku yang tidak sanggup diobati oleh para penceramah, demikian juga tidak sanggup disembuhkan oleh para dokter. Sedangkan saya sudah mendengar kemanjuran obatmu untuk menyembuhkan luka-luka, dan kepedihan penyakit, maka saya berharap engkau tidak sangsi untuk menampilkan obatmu kepadaku. Jika ia terasa pahit, maka saya yakni orang yang sabar dalam menahan pedihnya obat, dengan cita-cita sembuh.”

Abu Amir berkata; Saya pun menyaksikan ke panorama yang mengagumkanku, dan mendengar perkataan yang membuatku ternganga. Kemudian saya berpikir cukup lama. Setelah itu keluarlah dari mulutku kata kata dengan lancar, dan menjadi mudahlah bagiku mengungkapkan apa-apa yang sulit. Saya pun berkata kepadanya, “Wahai Syaikh, layangkanlah persepsi mata hatimu ke kerajaan langit. Perluaslah telinga makrifatmu ke seluruh penghuni alam, dan berjalanlah dengan hakikat imanmu ke nirwana Al-Ma`wa, maka engkau akan menyaksikan apa yang sudah Allah siapkan bagi para wali-Nya. Setelah itu layangkanlah pandanganmu ke api neraka yang berkobar, tentu engkau akan menyaksikan siksa yang sudah Allah siapkan bagi para penghuni neraka. Akan terlihat betapa jauhnya perbedaan antara kedua daerah itu. Bukankah kedua kelompok itu sama-sama mengalami kematian?” 

Abu Amir berkata; Maka ia pun merintih, kemudian berteriak, meniupkan nafas dengan mengejar dan berguling. Dan ia berkata, “Hai AbuAmir, obatmu sudah tentang penyakitku, saya berharap mudah-mudahan selanjutnya engkau mempunyai obat penyembuh penyakitku. Tambahkanlah kata-katamu, mudah-mudahan Allah merahmatimu!” Saya pun berkata, “Wahai Syaikh, Allah Maha Mengetahui kedalaman hatimu, juga hakikat dirimu, dan menyaksikan dirimu dalam kesendirianmu, dengan pandangan-Nya, di saat engkau bersembunyi dari persepsi makhluk Nya.” Dan ia pun berteriak menyerupai teriakannya yang pertama. Dia berkata, “Siapa yang sanggup menutupi kefakiranku? Siapa yang sanggup menolong kesulitanku? Siapa yang sanggup mengampuni dosaku? Siapa yang sanggup meniadakan kesalahanku? Engkaulah ya Allah, dan kepada-Mu lah saya kembali.” Setelah itu ia meninggal, mudah-mudahan Allah merahmatinya.

Abu Amir berkata; Dia pun jatuh dari tanganku. Saya berkata, “Oh apa yang sudah saya perbuat?” Setelah itu keluarlah seorang perempuan, yang mengenakan busana pelapis dari woll, juga kerudung dari woll, di dahinya dan hidungnya terlihat bekas sujud. Dan tubuhnya terlihat menguning alasannya yakni seringnya ia berdiri shalat malam. Dan kedua kakinya terlihat memar alasannya yakni lamanya berdiri. Dia pun berkata, “Engkau sudah berbuat baik, hai penuntun hati kelompok arifin, dan pengobat kerisauan orang-orang yang bersedih hati. Semoga jasamu ini tidak luput dari catatan kebaikan Allah Rabb semesta alam.

Hai Abu Amir, syaikh yang sudah meninggal dunia ini yakni ayahku. Dia sudah mendapat ujian penyakit ini sejak sepuluh tahun. Dia sudah shalat hingga tubuhnya lumpuh. Dia juga sudah usang menangis hingga matanya buta. Dan ia sudah usang menginginkan kehadiranmu, dengan meminta pinjaman Allah ‘Azza wa Jalla. Dia pernah mengatakan; Saya pernah hadir dalam majlis pengajian Abu Amir Al Bunani, dan perkataan-perkataannya sudah menggugah hatiku, menetralisir prospek tidurku, dan jikalau saya mendengarnya sekali lagi, tentu kata-katanya akan membuatku meninggal dunia. 

Semoga Allah membalas kebaikanmu, penasihat yang baik. Dan mudah-mudahan Allah terus menganugerahkan kami dengan hikmah-hikmah yang sudah Dia berikan kepadamu.” Kemudian wanita itu memeluk badan ayahnya dan mencium kedua matanya. Dia menangis dan berkata, “Hai ayahku, tangismu yang panjang atas dosamu sudah membuatmu buta. Duhai ayahku yang sudah meninggal dunia alasannya yakni mengingat bahaya Rabbnya.” Kemudian bunyi tangisnya menguat, sesenggukan, beristighfar, dan berdoa. Setelah itu ia berkata, “Hai ayahku, yang senantiasa dibarengi dengan rasa panasnya taubat dan tangisan. Ayahku yang senantiasa bermunajat dan berdoa terhadap Allah ’Azza wa Jalla. Ayahku, yang senantiasa menyertai para penceramah. Ayahku, yang sudah meninggal dunia sehabis menyimak ceramah.”

Abu Amir berkata; Saya pun menimpali perkataannya, dan berkata kepadanya, “Hai Perempuan yang sedang menangis, kebingungan, dan kehilangan ayah yang gres meninggal dunia. Ayahmu di sekarang ini sudah meninggal dunia. Dia sudah mengunjungi negeri daerah pembalasan. Dia juga sedang menyaksikan seluruh catatan amal perbuatannya, dan amalnya itu sedang dihitung, dalam catatan Tuhanku yang tidak pernah melalui satu hal sedikit pun. Jika ia berbuat baik, maka ia mendapat kedudukan yang mulia. Sedangkan jikalau ia melakukan keburukan, maka ia akan berada di daerah orang-orang yang sudah berbuat buruk.” 

Perempuan itu berteriak menyerupai teriakan ayahnya sebelumnya, dan dirinya dipenuhi peluh, sehabis itu ia secepatnya keluar ke masjid Rasulullah Al-Musthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ia secepatnya shalat, berdoa, beristighfar, bermunajat, dan menangis. Hingga tiba waktu shalat ashar. Kemudian, datanglah kepadaku seorang cowok hitam yang menenteng mayit keduanya. Dia berkata, “Shalatlah atas keduanya.” Saya pun menshalati keduanya, dan cowok itu kemudian menguburkan keduanya. Selanjutnya saya mengajukan pertanyaan kepadanya, siapakah keduanya? Dia menjawab, “Keduanya yakni keturunan Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma.”

Abu Amir berkata; Saya masih terguncang dengan peristiwa yang saya alami. Hingga saya menyaksikan keduanya dalam mimpiku. Keduanya mengenakan busana hijau. Saya pun berkata, “Marhaban untuk kalian berdua, dan Ahlan. Saya masih khawatir dengan apa yang saya ucapkan bagi kalian berdua. Apa yang sudah Allah perbuat untuk kalian berdua?” Syaikh tersebut menjawab, “Engkaulah yang berjasa mengantarkanku ke daerah ini Sehingga patut mendapatkannya, wahai Abu Amir Setiap orang yang membangunkan orang lalai, Maka sebagian pahalanya kembali ke yang mengajak Siapa yang mengembalikan hamba yang lari nan berdosa Dia menyerupai orang yang memperhatikan Sang Penguasa Dan keduanya berjumpa di negeri Surga Aden Di haribaan Rabb Yang Maha Memberi anugerah”.

----------------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Cetakan Pustaka al-Kautsar, hal. 114-117

Belum ada Komentar untuk "Kisah Menangis Alasannya Yakni Taqwa Sampai Buta"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel