Umar Menangis Menyimak Syair Ini

Rabi’ meriwayatkan dari Al-Hasan, bahwa ada sekelompok orang mengunjungi Umar bin Al-Khathab. Mereka bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, kami mempunyai seorang imam yang masih muda, jika beliau shalat mengimami kami beliau tidak keluar dari mihrab hingga beliau mengucapkan satu untaian syair. Bagaimana perilaku kami seharusnya?” Umar menjawab, “Ajaklah saya menemuinya.” Mereka pun berlangsung bareng hingga hingga ke tempatnya. Dan mereka mengetuk pintunya. Pemuda itu lalu keluar. Dan beliau berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ada apakah engkau tiba ke sini?” Umar menjawab, “Saya mendengar gunjingan yang tidak baik mengenai dirimu. Dan saya ingin mengajukan pertanyaan pribadi terhadap dirimu.” 

Pemuda itu bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, gunjingan apakah yang hingga kepadamu?” Umar menjawab, “Saya mendengar bahwa engkau sering melantunkan untaian syair.” Pemuda itu berseru, “Untaian syair itu merupakan pesan yang tersirat yang saya tujukan terhadap diriku.” Umar berkata, “Ucapkanlah syair tersebut.” Pemuda itu berkata, “Saya khawatir dianggap berbuat jelek jika saya mengucapkan syair tersebut di depanmu.” Umar berkata, “Tentu, jika syair tersebut berisi kebaikan, saya akan turut membaca syair tersebut bersamamu. Sementara jika buruk, saya akan cegah dirimu membacanya.” 

Pemuda itu mengangguk, lalu beliau melantunkan syairnya, 

“Setiap kali saya memarahi hati ini

Dia kembali ke kesenangan yang membuatku lelah

Saya tak lihat zaman, kecuali beliau dalam kelalaian

Serta leha-leha yang menggelincirkanku

Hai rekan yang buruk, berapa usang bayi ini terus bermain

Sementara masa muda, sudah tiba dan berjalan

Sebelum saya merealisasikan sebuah prestasi

Apa yang menantiku setelahnya, cuma kefanaan

Uban menangkal gerakku, jelek sekali nafsu ini

Saya tak melihatnya dalam kebaikan juga prestasi

Bukan nafsu dan keinginanku yang bermanfaat

Tapi Allah yang mengawasiku, juga yang saya takuti”

Mendengar itu Umar menangis. Kemudian beliau berkata, “Dan silakan siapa yang akan mengucapkan syair itu.” Umar berkata, “Adapun saya mengatakan, “Hawa nafsuku, bukan dirimu juga bukan keinginanmu, Namun Allah yang mengawasiku, itu yang saya takuti.”

-----------------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Cetakan Pustaka al-Kautsar, hal. 113-114

Belum ada Komentar untuk "Umar Menangis Menyimak Syair Ini"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel