Kisah Cowok Shaleh

Abu Abdillah, seorang muadzin Bani Haram berkata; saya bertetangga dengan seorang pemuda. Setiap kali saya adzan untuk shalat, dan melantunkan iqamah, beliau seperti berada sempurna di belakangku. Jika saya shalat beliau pun shalat. Setelah itu beliau memakai sandalnya dan masuk ke rumah. Saya berharap beliau mengatakan kepadaku atau meminta suatu kebutuhan kepadaku. Pada suatu hari, beliau berkata kepadaku, “Wahai Abu Abdillah, apakah engkau mempunyai mushaf yang sanggup saya pinjam, biar saya sanggup membacanya?” Saya pun mengeluarkan satu mushaf dan memberikannya kepadanya. Dan beliau memeluk mushaf itu ke dadanya. Kemudian beliau berkata, “Semoga hari ini, menjadi menjadi hari yang sungguh penting bagiku dan bagimu.”

Pada hari itu saya tidak melihatnya lagi. Saya memperhatikan beliau tidak keluar rumah. Demikian juga di saat saya shalat maghrib dan Isya, beliau tidak keluar rumah. Maka di saat saya sudah final shalat Isya, saya pun mengunjungi rumah kawasan tinggalnya. Di sana saya mendapati suatu baskom dan alat membersihkan diri. Dan saya dapati dirinya dalam kondisi mati sedang mushaf berada di pelukan dadanya. Saya pun mengambil mushaf dari kamarnya. Dan saya meminta tolong orang-orang di sekeliling untuk menolong mengangkatnya ke kawasan tidurnya.

Pada malam hari itu saya berpikir siapa yang sanggup saya ajak bicara untuk memakaikannya kain kafan. Saat akan tiba waktu subuh, saya pun ke masjid untuk melantunkan adzan subuh, kemudian setelah itu shalat sunnah. Ketika itu saya menyaksikan ada cahaya di arah kiblat. Saya pun mendekat. Ternyata itu yakni kain kafan yang terlipat, di arah kiblat. Saya pun mengambilnya dan saya mengucapkan Alhamdulillah. Kemudian saya membawanya ke rumahku, dan kembali ke masjid. Setelah itu saya menunaikan shalat subuh. Saat saya mengucapkan salam epilog shalat, dan menengok ke arah kanan, saya mendapati di sebelah kananku Tsabit Al-Bunani, Malik bin Dinar, Habib Al Farisi, dan Shalih Al-Murri. Saya pun mengajukan pertanyaan terhadap mereka, “Wahai kerabat saudaraku, apa yang menghasilkan kalian tiba kemari?” mereka menjawab, “Apakah ada seseorang yang meninggal semalam, di sekeliling kawasan ini?” saya menjawab, “Iya. Ada seorang perjaka yang meninggal malam ini, yang lazim shalat bersamaku.”

Mereka berkata, “perlihatkanlah beliau terhadap kami.” Saat mereka masuk menyaksikan jenazahnya, Malik bin Dinar membuka epilog mukanya, kemudian beliau mencium dahinya di bab yang lazim digunakan untuk sujud, setelah itu beliau berkata, “Demi ayahku, engkau wahai Hajjaj, kadang kala jika dipahami di suatu tempat, engkau pindah ke kawasan lain yang tidak mengenalmu. Bawalah beliau untuk dimandikan.” Kemudian saya dapati mereka masing-masing menenteng kain kafan. Dan masing-masing mereka berkata, “Saya yang hendak mengafaninya.” 

Ketika mereka masing-masing berebut, saya pun berkata terhadap mereka, “Saya tadi malam berpikir wacana siapa yang sanggup saya minta tolong untuk mengafaninya. Kemudian di saat subuh saya tiba ke masjid untuk adzan, kemudian shalat sunnah. Saat itulah saya menyaksikan ada kain kafan yang terbungkus rapi. Saya tidak tahu siapa yang meletakkannya?” Mereka berkata, “Jika begitu, kafankanlah beliau dengan kain kafan itu.” Kami pun mengafaninya, dan mengeluarkannya. Dan kami nyaris tidak sanggup menenteng jenazahnya untuk bergerak ke kuburan, alasannya yakni demikian banyaknya orang yang menghadiri pemakamannya.

-------------------------------------------------------
sumber : 500 Kisah Orang Sholeh, Karya Ibnul Jauzi. Cetakan Pustaka al-Kautsar, hal. 90-91

Belum ada Komentar untuk "Kisah Cowok Shaleh"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel